Minggu, 25 November 2012

Inspired by : a mug of hot cappuccino



Hhhhh...
Kuhirup aroma cappuccino yang meliuk liuk dari dalam mug berwana pink bergambar princess cinderella. Hei, gelas seorang puteri, berisi cappuccino panas, is that wrong?
Aroma hangat kualirkan melalui rongga hidung. Kudapati hatiku sedikit melunak karenanya. Aku tak dapat menahan senyumku saat teringat jumat malam, beberapa minggu lalu. Segelas ice cappuccino di Cafe kupansa. Sebuah insiden yang tak pernah kurancang ataupun kuduga dalam hidupku. Dipertemukan dengan guru favoritku dengan cara yang alangkah romantis 
Kuamati choco granul yang mengambang di atas buih cappuccino. Coklat, halus dan nampak lezat. Kusendok sedikit lalu kucicipi. Hmm...not bad...

Terlalu dramatis jika kubilang aku menikmati cappuccinoku dengan tempo yang sangat perlahan, penuh penghayatan dan penuh pengamatan. Kurasa, aku bisa menganalogikan sesuatu dari cappuccinoku ini. Ya, something that i couldnt fully explain. Something that makes me feel like im never get home soon, never get any comfortable zone in my life. It have been so long, almost 4 years. A long time for waiting and expecting, hmm.. the foolest think that i do, i think ..
Kugerakkan jemariku agar sendok stainless itu menari dalam kubangan cappuccino. Sesekali terdengar bunyi gemeretak dari dasar mug. It should be sound of the mix, i think. I smelt it, again and again, feels like i never bored to do it until the mug is empty, later.

For me, hal yang paling menyita perhatian dari semug cappuccinno adalah aroma dan buihnya, rasa dan derajat suhunya bukanlah hal yang terlalu important untukku, but i cant underestimate it too.
Kau lihat, betapa indahnya saat kutuang bubuk cappuccino kedalam mug, lalu kutuang air dari kran dispenser sekenanya, sesuka kumau, sampai nyaris penuh karena bubuk capuccinno itu mengambang dan berjejal di permukaan. Saatnya sendok mengambil alih. Kugerakkan gemulai berlainan arah jarum jam, dan sebaliknya, dan memutar. Entahlah, seperti ada kenikmatan seni tersendiri saat aku melakukannya. Aku suka saat harus membuat gelombang cappuccino dalam mug yang sempit. Gelombang sekenanya, tak tertahankan, perlahan namun berkelanjutan. Itulah yang kurasakan dalam sebongkah ruang di balik dadaku yang sempit. No matter what will you say about it, i just wanna say that im weak, so weak, very weak. What a pity of me !

Aku bisa melihat buih buih cappuccino itu menyembul dan memusat di tengah mug. Sedikit lebih tinggi dari bagian tepi. Indah, menarik dan nampak melelehkan liurku. Kuciduk sedikit buihnya untuk kucicipi, kuletakkan begitu saja di dalam mulutku bersama sendoknya yang cekung, hmmm.. where is the foam? Why are them lost? Leaving the curiousity of mine? And then, there’s nothing left inside my mouth, even my tongue cant taste the foam. Just the illusion of enjoyment, or just the shadow of deliciousness, probably 
Why arent they stay more long on my mouth? Why arent they stay keep be ‘foam’ and stay alive in my tongue. I need their warmness, i need their taste, to comfort me over and over again.

Hufft... i get idea.., an analogy...

Layaknya buih cappucinno dalam mug yang sempit, mengambang lalu jika dibiarkan terlalu lama tanpa ‘perlakuan’ tentunya akan hilang, lebih tepatnya membaur bersama tepian tak berbuih, tepian yang encer dan cokelat, tepian yang terkesan biasa saja dan sama sekali tak istimewa. Buih-buih yang menyembul itu nampak lezat, hangat, manis. Namun ternyata, ketika aku berusaha mencicipi dan ‘menjaga’nya dalam mulutku, buih itu tak ubahnya hanya ilusi. Berwujud, namun sebenarnya bukan untuk digenggam, dirasakan. Cukup dilihat, dikagumi dan didoakan semoga tak segera melebur. Buih itu lenyap ketika tiba di mulutku, landing di lidahku. Padahal, aku sedang mencoba untuk berbagi kehangatan dengan buih-buih itu lewat setiap bintil yang ada di lidahku. Hei, bukankah buih ini persis seperti ‘harapan’ yang baru saja kulupakan?
Andaikan aku tahu bahwa ’kehangatan’ dan sambutan yang kuberi untuk buih-buih itu justru akan membuatnya hancur dan melebur, tentu takkan kulakukan itu. Aku hanya akan membiarkan buih-buih itu tetap berkelompok di permukaan cappuccino. Tapi...bukankah jika seperti itu kelak buihnya akan menghilang juga? Menghilang tanpa bisa kunikmati secara formal dengan pengecapku? Ya, sooner or later, something will over, will lost, will dissapear, will be a shadow in the darkness. And then, what’s left for us? Emptyness. Just it. 

Hhhhh...
Kuciduk semua buih sampai tak tersisa, kubiarkan mereka musnah di dalam mulutku. Aku bosan menjadi orang yang baik, saatnya aku sedikit jahat dengan membinasakan harapan buih-buih itu untuk tetap bertahan dalam bentuknya. So sorry, i told you, we have been met each other and then we have to say good bye, even not each other, but i get honorary to say it first,
“good bye, foams, i will miss you, cause im not even taste your flavour, u treat me with your colour, your form, your smell... ”
“curiousity,  you left it for me...”

Saatnya kusinduk bagian cair dari mug ini. Aku tidak berniat sedikitpun untuk menyeruputnya, aku hanya ingin menyendokkannya sedikit demi sedikit dengan tempo sangat perlahan dan lembut. Saat sesendok cappuccino itu tiba dalam mulut, kujungkitkan sendoknya kedepan, membiarkan cairan berwarna cokelat itu berlinang menjalari sela-sela lidah dan gigiku. Setelah sendoknya kosong, aku membalikannya dan menggigitnya hingga terdengar gesekan antara kedua materi dalam mulutku. Gemelutuk yang sempurna ! kusindukkan lagi cappuccino kedalam mulut, kujungkitkan sendoknya, kurasakan aliran hangat di sela-sela mulutku, kubalikkan sendoknya, kugigit perlahan, dan terus kulakukan hal yang sama sampai cappuccinonya habis, tak tersisa. 

Tanpa sadar, ada tetesan cappucino yang meninggalkan bekas di piyama ‘broken white’ku. Aisssh, segera kucuci sekenanya dengan air yang ada di gelas milik adikku. Nodanya tak mudah hilang, mungkin akan selamanya membekas. Hhhh...padahal ini piyama baru, ini adalah kali kedua aku tampil dengan piyama ini. Piyama lengan panjang bergambar hello kitty dan seekor kucing putih.
Hei, mungkin seperti itu pula ‘rasa’ yang kupunya untuknya. Bukan, ini bukan rasa cinta, tapi rasa sakit yang mungkin selamanya akan membekas sampai tiba suatu saat nanti aku mengungkapkan sesuatu untuk seseorang yang bersedia membimbingku,
“thanks to being my husband, thanks to erase this wound and thanks to fix up the broken part of my heart...”


November, 23th 2012. 23.48

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar