Senin, 19 November 2012

Ironis ..

hhhhhh.....
kuhirup nafas panjang yang terasa sangat berat. kusandarkan punggungku perlahan, sepertinya...aku tengah gelisah.

aku tersenyum kecil saat kualihkan pandanganku pada beranda sosmed. kubaca status mereka satu persatu, aku nyaris terkekeh.
sesaat kemudian aku diam, menunduk lalu aliran hangat air mata mulai membuat lajur pola tersendiri di wajahku yang bulat ini. cepat-cepat kuraih tissue dan kuangkat kacamataku.

aku tak punya alasan untuk menangis, sekaligus tak punya alasan untuk tidak menangis.
mungkin aku sedang terganggu batinnya.. mungkin, ya mungkin saja...

bagaimana aku tidak merasa ironis, saat sebagian dari kita menuntut keadilan di tanah Palestina sana, sebagian dari kita malah sibuk meminta pacar pada Tuhan. lucu ya ? atau ironis ? Entahlah ...

bagaimana aku tidak merasa ironis, saat sebagian dari kita berteriak-teriak menyatakan keihlasannya untuk berperang di jalan Allah dan berteriak meminta keridhaan-Nya, sebagian dari kita disini malah berteriak-teriak menyatakan cinta pada manusia, i loveyou, i miss you, everything for you beybeh ... yeah yeah yeah !!!

bagaimana tidak merasa ironis, saat sebagian dari kita disana bersimpuh, menangisi para kerabatnya, orang tuanya, anaknya, dan saudaranya yang wafat dengan tangisan yang rela dan penuh tawakal, sebagian dari kita malah nyungsruk, menangisi statusnya yang kini ditinggal pergi kekasih hati. tangisannya meraung-raung, sama sekali tidak ada keikhlasan di hati mereka untuk 'kepergian' kekasihnya itu. ckckckck ... --"

bagaimana tidak ironis, saat kita disini berlomba-lomba untuk tampil mewah, sebagian kita yang lain malah sedang menyeka air mata mereka dengan pakaian yang menempel di tubuhnya sambil berkata "ummi...abbi..lihatlah, rumah kita telah hancur. ummi...abbi...dan kini kalianpun tak terlihat lagi, kalian terkubur disana bersama jasad jasad yang siap menjemput janjiNya..."

 adakah hati kita untuk merasakannya wahai saudaraku?

aku tersenyum kecut. lalu tertawa terbahak menertawakan kebodohanku selama ini.
aku bodoh, karena aku mencemaskan masa depanku, sedangkan saudaraku disana bahkan tidak tahu, apakah mereka akan masih bisa membuka matanya kala fajar terbit esok hari..

aku bodoh, karena aku terlalu terobsesi pada dunia, sedangkan saudaraku disana sama sekali tak punya 'format' yang pas tentang gambaran obsesi akan dunia. karena yang mereka tahu, dunia itu perang, dunia itu penuh permusuhan, dunia itu rudal, dunia itu hujan bom, dunia itu hamparan jasad bersimbah darah, dunia itu tempat dimana mereka mengunci tangis mereka dan mengunci rasa sakit mereka untuk kelak diadukan pada Tuhan.

aku bodoh, karena aku terlalu terobsesi pada 'cinta' makhluk. sedangkan saudaraku disana bahkan telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai dan mencintai mereka.

huffft ......

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar