Minggu, 25 November 2012

Masih Sama Seperti 3 Tahun Lalu...



Sesungguhnya ada sesuatu yang membuat hatiku ngilu jika kuingat apa yang terjadi 3 tahun lalu, saat aku masih berseragam putih biru, masih sangat polos dan belum terlalu mengerti untuk menanggulangi gejolak ‘merah muda’ dalam dada. 

3 tahun lalu, aku mulai mengenal apa itu ‘persahabatan’ atas dasar perbedaan karakter yang membuat masing-masing diantara kami merasa sangat beruntung karena telah dipersatukan.
3 tahun lalu, aku mulai mengenal ‘merah muda’ yang lebih dari sekedar suka, tapi ingin pula mengakuisisi.
3 tahun lalu, aku mulai mengenal apa yang dinamakan patah hati karena sahabatku sendiri.
Ya, betapa beruntungnya aku dapat merasakan semua itu serta kupahat permanen dalam kitab ‘perjalanan hidupku’. Walaupun rasanya sangat ngilu, perih dan memantik luka dalam hati, tapi aku merasa sangat beruntung karena telah merasakannya.

Keistimewaan itu dimulai saat.....
Saat kita menyadari bahwa persahabatan kita memang unik, ketiga personilnya memiliki inisial nama yang identik. Huruf ke 25 dari susunan alphabet. Huruf Y.
Sekilas, mungkin terdengar biasa saja, namun bukankah ini sebuah keajaiban? 3 karakter yang sangat sangat jauh bertolak belakang dipersatukan dalam ikatan persahabatan yang sangat intens. Sebut saja aku Y1, kau Y2, dan dia Y3. 

Y1, itulah aku. Si pendiam yang melankolis dan artholic. Aktif dalam beberapa kepengurusan organisasi, di antaranya organisasi palang merah, organisasi lingkungan serta organisasi jurnalistik. Kebetulan saat itu aku menjabat sebagai reporter dan author untuk mengisi rubrik-rubrik dalam buletin sekolah. Aku yang seorang feminist dan pemalu sangatlah apik dalam berkawan. Aku mencari mereka yang siap kujadikan ‘diary berjalan’.
Y2, itulah kamu. Si ‘tukang ketawa’ yang sanguinis dan mathmania. Aktif dalam organisasi olahraga dan jurnalistik juga, kau menjabat sebagai seksi olahraga saat itu. Kau seorang yang sangat tomboy dan cuek, namun ada satu yang tak kutemukan dari kawanku yang lain, bahkan hingga saat ini. Kau tulus dan sangat care. Kau tak pernah berpikir panjang untuk mengambil keputusan yang menyangkut ‘sahabatmu’.kuakui niatmu pasti inginkan yang terbaik untukku, tapi saat itu, sifatmu itu ‘keluar’ saat timingnya gak tepat ! karena itulah kau mencederaiku. Ahh....
Y3, almost similar with me. Dia sangat pemalu, namun tak banyak melibatkan diri dalam organisasi. Kadang feminim,kadang tomboy. Saat itu aku baru mengenalmu dari Y2 sehingga aku tak banyak tahu tentangmu. Yang aku tahu hanyalah sifatmu yang lembut, selalu ‘manut’, ramah, pemalu dan tak banyak bicara. Hmmm... kaulah alasanku untuk tetap tersenyum dalam ‘cedera’ persahabatan kita. Terimakasih ....

Aku merindukan kalian....
Merindukan saat kita jajan bersama di hari sabtu sepulang ekstra kulikuler,
Merindukan saat kita memesan 3 piring gorengan dan 3 gelas pop ice lalu kita membawanya ke kelas, ke teras depan kelas, ke perpustakaan, ataupun stay at canteen,
Merindukan saat kita berkunjung ke rumah guru Bhs. Indonesia dan rela diam berjam-jam untuk memilih-milih buku apa yang akan kita baca,
Merindukan saat kita berkumpul di perpustakaan pribadi milik Bu is dan disuguhi pisang keju. Aku dan Y2 berusaha makan sewajar dan seanggun mungkin, tapi ingatkah saat Y3 meletakkan sendoknya lalu mencomot pisang keju dan menyuapkannya kedalam mulut tanpa terduga. “ribet. Hehe..” itulah alasan yang menguapkan kesunyian dan mengundang tawa.
Merindukan saat kita ‘menjajal’ kamar Y3 dan melempar semua boneka ke arah Y2 sampai dia merengut takut,
Merindukan saat kita menyusup ke halaman belakang sekolah saat hari libur demi menikmati persahabatan kita sebelum terpisahkan oleh ‘pilihan’ masing2. Kalian ingat saat kita berlari-lari menyusuri bangunan belakang sekolah dengan berlari kecil yang tak henti diselingi tawa? Kalian ingat saat aku dan Y2 menggoda Y3 dengan sapaan’teh RW’ ? kalian ingat saat kita duduk duduk di taman dekat aula sambil mengamati berapa banyak bunga yang gugur dan memungutinya? dan, kalian ingat saat kita bertiga berbaring diatas padang rumput di halaman belakang sambil mengamati awan-awan yang menyembul di langit senja? Saat itu kita semua saling berimajinasi tentang bentuk awan. Tak jarang, pendapat kita sama sekali tak menemukan titik temu tentang itu.

Mungkin kali ini aku akan mengistirahatkan Y3 dulu dalam deskripsiku. Jangan marah ya Y3...kamu bukan figuran, hanya saja kamu terlalu baik untuk aku deskripsikan.

#between Y1 and Y2
Entah bagaimana aku mengenalmu, neng. Rasanya kita akrab begitu saja tanpa proses apapun. Seingatku, saat kita beranjak ke kelas 9, kita di daulat untuk mewakili sekolah ke sebuah event bertema pelestarian lingkungan yang dinamakan Green Camp. Ya, mungkin itulah pertama kalinya kita saling mengenal.
Meskipun saat itu aku lebih mengenal betet, tapi entah kenapa aku terkesan dengan sikapmu yang aneh dan menggelitik. Kau adalah manusia yang tidak memiliki refleks ‘henti tawa’, badanmu mungil, suaramu serak khas dan tingkahmu yang childish membuatku merasa bahwa kau adalah makhluk yang menggelikan :D
Saat itu aku dipercaya pembimbing untuk berpidato di podium untuk membawakan tema tentang lingkungan, tak dinyana, pidato itu membuat juri votelock terkesan. Tim kita berhasil menggondol juara 1. Tapi, aku sempat BT lho sama kamu neng. Yang pidato kan aku, kok yang ngasih piala ke kepsek saat upacara hari senin di awal semester itu kok kamu sih? Aku kan pengen famous juga. Hehe....
Sejak saat itu, kedekatan kita bertambah intens. Kau ingat saat kita diajak bertamasya bersama ibu pembimbing ke kampung naga? Keren yah, kita beli bahan, masak sampai makanpun bareng dipinggir sawah ! unforgetable moment deh :D

Walaupun kita terpisah kelas, kau di kelas A dan aku di kelas G, tapi kita tak pernah mempermasalahkan jarak yang harus ditempuh walau hanya untuk mengucap ‘hai, hayu jajan bareng’  . ahhh...aku merindukannya neng.

Sampai tiba saatnya secara tak sengaja kita jatuh hati pada orang yang sama. Pada awalnya, aku mempercayaimu untuk menjadi ‘back up’ perasaanku. Tak ada yang kusembunyikan sedikitpun tentang apa yang kurasakan untuk si doi. Seandainya aku tahu bahwa kau menyukainya juga, mungkin aku tidak akan terus mengoceh tentangnya dihadapanmu setiap waktu, setiap hari, setiap pulang sekolah. Mungkin kalau aku tahu kalau kau menyukainya juga, aku tidak akan membebanimu dengan harapan bahwa kau akan menjadi media bagi kelanjutan hubungan yang aku harapkan. Mungkin kalau saja aku tahu kau menyukainya juga, aku tidak akan mencuri-curi kesempatan untuk menatapnya. Mungkin kalau saja aku tahu bahwa kau menyukainya juga, aku tidak akan memupuk kecintaanku padanya.mungkin kalau aku tahu kau menyukainya juga, aku tidak akan terus membiarkan hatiku merindukannya selalu. Dan mungkin kalau saja aku tahu pada akhirnya kau yang akan mendapatkan hatinya, aku tidak akan berlama-lama berada di dekatmu. Tapi sekarang, saat ini, detik ini,aku tahu bahwa semua ‘kalau saja’ itulah yang telah menguatkan batinku.
Aku bosan menjadi seorang pecundang yang berlama-lama tenggelam dalam kebencian. Kalau boleh jujur, aku marah sama kamu, neng. Aku kecewaaaaa banget sama kamu. Rasanya aku gak punya alasan lagi buat tetep keep in touch sama kamu. 

Tapi....apakah aku memiliki wewenang melarang hatimu untuk mencintainya? Apakah aku memiliki hak untuk membatasi hatimu untuk merindukannya? Apakah aku punya alasan untuk tetap menjauhkan hati kalian yang pada kenyataanya malah sangat dekat dan selalu dekat? Itu hanya egoku. Emosiku yang meletup-letup tanpa bisa kumanage. Aku masih 15 tahun saat itu,aku baru tahu manisnya persahabatan, indahnya cinta,  dan dalam waktu yang bersamaan merasakan kompleksitas dari perpaduan antara keduanya. Ya, aku menyesal neng, maafkan aku yang saat itu belum bisa berpikir jernih dan belum bisa menemukan apa itu ‘hikmah’.

Today, you show me how pity i am to still hate you, underestimate you ...

Kamu berubah neng, kamu bukanlah kucing yang telah mencuri ikan asin. Tapi kamu adalah muslimah yang terbalut pakaian panjang nan rapi sesuai syar’i.
Kamu berubah neng, kamu bukan lagi seorang makhluk berambut pendek yang membuat batinku kembang kempis (inget masalalu) saat ada di deket kamu. Tapi kamu adalah seorang akhwat yang berjilbab rangkap dan berada di dekatmu membuat batinku damai, sekaligus malu, karena terlalu lama berprasangka buruk tentangmu.
Kamu berubah neng, kamu bukan lagi orang yang membuatku geli saat melihat tingkahmu. Tapi kamu membuatku berkaca dari tingkahmu, sikapmu dan hidupmu. Aku tak geli lagi, tapi sekarang aku salut sama kamu, neng..
Neng, pertemuan kita hari ini sungguh sangat manis.
Saat kita bertatap muka, sama sekali tak ada keraguan di hati kita untuk sama-sama berseru “waaaaaaaaahhhh !!” tanda pangling yang terlalu hiperbola,apalagi dilakukan di pinggir jalan. Tapi kita tak pedulikan itu kan neng? Kita tetap akrab walau 3 tahun tak saling sapa, tak saling tatap muka. Kita tetap seperti 3 tahun lalu yang saling bertutur dalam lembut. Kita tak peduli lagi apa yang sebenarnya mengganjal di kalbu kita masing-masing.

Neng...
Terimakasih ya telah memegang lenganku saat aku hendak terjatuh karena tersandung batu besar tadi. Walau kau sedang serius bercakap dengan abimu di telpon, kau masih bisa mencurahkan perhatianmu untukku yang nyaris saja terantuk. Langkah kita terhenti sejenak, mata kita saling bertatap. Ada sesuatu yang kurasa hanya kutemukan di matamu dari sekian banyak manusia berlabel ‘teman’. Ada ketulusan disana, ketulusan untukku  yang selalu berprasangka buruk terhadapmu. Ketulusan untuk membuatku merasa aman saat aku berada di dekatmu, ketulusan untuk membuatku tersenyum dan merasa ‘betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertimu’. Wah neng, aku jadi malu sama kamu ...

Neng...
Terimakasih ya telah mengajakku membuka lembar baru dari kisah kita, aku tidak tahu apakah kau memaafkanku karena kalimatku yang terlalu sinis di suatu comment-an yang kutujukan untukmu. Yang jelas, aku tak lagi melihat rasa marah dan dendam terpancar dari dirimu. Aku menyukaimu lagi, neng..

Neng...
Terimakasih ya telah menungguiku sampai aku berhasil menyeberangi jalan. Aku jadi teringat saat kau mengantarku pulang dari rumah Y3. Kau tidak membiarkanku merasa sendiri, kau tidak membiarkanku merasa terabaikan, kau tidak membiarkanku merasa ‘menyedihkan’ saat ada di dekatmu. Duh neng, kamulah orang pertama yang patut kujadikan rujukan sebagai ‘sahabat ideal’. Ketulusanmu benar-benar mampu membuyarkan semua dinding yang telah menghalangi mata batinku tentangmu. 

Neng..,
Terimakasih ya telah ada di hidupku. Meskipun kau sempat mengecewakanku, tapi nyatanya aku terlalu menyayangimu, aku terlalu takut kehilanganmu. Kamulah yang terbaik neng. Semua kebaikan yang kau lakukan terhadapku, yang kuanggap sederhana ternyata hal besar yang sangat langka dan berharga. Terbukti bahwa aku tak menemukannya dari temanku yang lainnya. Aku menganggapnya sederhana karena memang mataku dibutakan benci, dipenuhi dendam. astagfirullah... 

Neng,
Ajari aku untuk bisa istiqomah sepertimu, tegar sepertimu, dan bisa menjadi diri yang lebih baik lagi.
Aku selama ini terlalu sombong dengan menganggapku lebih baik darimu, tapi ternyata keadaannya malah terbalik. Dengan objektif kukatakan bahwa kamulah yang lebih baik dariku.

Neng,
Genggam tanganku apabila aku lelah meniti jalan agama ini, usap peluhku apabila aku mulai lelah mengikuti syar’i, keringkan air mataku saat aku mulai merasa sedih bahwa keinginanku untuk menjadi kaffah ini ternyatamenemui rintangan, tiupkan asamu, tularkan semangatmu padaku, 

Neng,
Allah tahu,kalau saat ini aku tidak lagi menyukaimu.
Ya, aku tidak lagi menyukaimuu karena tingkahmu yang lucu,
Tapi aku menyukaimu karena kau mencintai Rabbku, Rabb kita.
Neng,
Allah tahu kalau saat ini aku tidak lagi menginginkanmu.
Ya, aku tidak lagi menginginkanmu karena kau mampu hadirkan tawa di hariku,
Tapi aku menginginkanmu karena kau mampu menebalkan iman di hatiku.
Neng,
Allah tahu kalau aku tidak lagi menyayangimu.
Ya, aku tidak lagi menyayangimu atas dasar ‘persamaan pandangan’ dalam persahabatan,
Tapi aku menyayangimu karena kita memiliki persamaan pandangan untuk hidup dalam kemuliaan islam.
Neng,
Tetaplah di sisiku, ajari aku untuk lebih jauh mengkaffahkan apa yang selama ini sedang coba ku jalani.
Tetaplah disini untuk kembali saling mencintai karena Allah,
Tetaplah disini untuk kembali mengulang semua yang pernah terkenang,
Ya...kebahagiaan,ketenengan, keikhlasan, kesempurnaan dan ketulusan dalam rangka meraih ridhaNya.
Kau mau kan neng? 

Neng, neng, neng, would you be my best friend (again) ? sesungguhnya orang sepertimu lah yang kucari. Yang saling bisa mencintai, mengasihi, memberi,  menguatkan dan meluruskan dalam kemuliaan hukum Tuhan.
Neng, terimakasih banyak telah membuatku merasa menemukan sekeping sayap yang telah lama hilang. Dan sekeping sayap itu adalah sayap milikmu. Yuk neng kita terbang bareng bareng, kita sekarang udah punya sayap. Sayapyang siap dikepakkan untuk sama-sama mencari RidhaNya....


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar