Jumat, 18 Januari 2013

cukup kusebut: manifestasi

tadinya aku adalah ksatria pena yang selalu mengekstrak semua yang kuterima dan kurasa menjadi sebuah bentuk karya sastra,
tapi sepertinya aku kehabisan lembaran kertas..
oh tidak ! lebih parah dari itu !
jangan katakan bahwa aku kehabisan tema karena naluriku yang mati rasa
oh tidak !
jangan katakan bahwa aku kehilangan kekuatan mengindera
oh tidak ! 
jangan katakan bahwa aku harus membuat sendiri formula melankoli agar kepekaanku kembali
oh tidak !
jangan katakan bahwa aku harus berguru pada rasa yang menyesatkan jika salah menempatkan objek : rasa cinta
oh tidak ! 
jangan katakan bahwa aku harus kembali menyusuri setiap kisah masa lalu di negeri abu-abu itu ! terlalu kelam dan menyakitkan
oh tidak ! jangan katakan bahwa aku harus kembali menjadi gadis berumur 14-15an yang selalu menorehkan perasaan yang terlampau privasi kedalam lembaran buku harian,
oh tidak !

jangan katakan bahwa aku harus mengumpulkan kembali abjad namanya yang berserakan agar muncul kesan mendalam dari semua yang pernah dilakukan
ah...
sepertinya aku hanya perlu merenungi setiap kata yang telah tercipta saja,
setiap tanda baca yang sudah terbentuk saja,
memilahnya sesuai dengan yang kurasa,
merangkainya sesuai dengan tema yang ingin kucipta,
lalu mencoba menuliskannya kedalam lembaran bercita rasa tinggi,
dengan pena hasrat,
selalu berhati-hati agar tak ada kesalahan dalam penulisan,
sedikit saja kesalahan bisa membuat kekokohan seni melunak,
lalu keindahan dan aura seni akan menghilang dengan sendirinya,
aissshhh ....
ada sedikit masalah lagi,
aku kehabisan tinta ! 
bukan, tinta untuk penaku bukanlah tinta hitam berbau menyengat.
bukan, tinta untuk penaku bukanlah tinta aneka warna dengan berbagai aroma,
tinta untuk penaku bukanlah tinta yang diciptakan oleh tangan manusia,
tinta untuk penaku adalah curahan ketulusan yang kuendapkan dalam segumpal daging dibalik rongga dada,
dihasilkan oleh kelenjar lakrimal,
kusinggahkan sejenak di kedua binaran indra yang kupunya,
lalu kualirkan dari kedua sudut dan segera memberi jejak di pipi,
menjadi tetesan murni di ujung dagu,
dan berakhir menjadi partikel yang sarat akan rasa dan ungkapan sendu,
tapi, nampaknya ada masalah lagi...
tak mudah untuk mengalirkannya keluar,
batinku harus sangat tersentuh dulu,
logikaku harus ditawan hati kecil dulu,
nuraniku harus mendominasi dulu,
dan yang tak kalah pentingnya, setiap kata harus kehilangan maknanya dulu,

karena bagiku, menangis adalah manifestasi dari lumpuhnya kemampuan mengungkapkan apa yang sedang dirasa tanpa mengabaikan lecutan makna yang kian meradang sampai aku menyerah dan membiarkan gelombang rasa yang tak terdefinisikan ini menjadi buliran hangat pengisi pena hasrat, setetes saja mampu menumbangkan jiwa yang tegar dan hati yang kuat ...

190113-12:11am

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar