Jumat, 18 Januari 2013

Memberi Pinjaman Kepada ALLAH

Diposkan oleh Yusi Aulia di Jumat, Januari 18, 2013
Reaksi: 

Zaid bin Aslam Rahimahullah seorang Tabi’ien berkata, “Dikisahkan bahwa di suatu masa ada seorang Nabi diantara para Nabi, lalu Nabi itu menyuruh kaumnya untuk meminjamkan sesuatu kepada Robb mereka, Azza Wa Jalla. Maka seorang laki-laki dari kaumnya berkata,”Yaa Robb, aku tidak memiliki sesuatu harta kecuali jerami untuk makan keledaiku, maka jika Engkau memiliki keledai, Engkau beri makan keledai itu dengan jerami keledaiku ini”.

Zaid bin Aslam melanjutkan,”Adalah laki-laki itu berdo’a kepada ALLAH dengan perkataan itu tadi”. Zaid berkata,” Lalu Nabinya melarang laki-laki tadi melakukan hal tersebut, maka ALLAH Azza wa Jalla mewahyukan kepada Nabi itu, “Karena alasan apa engkau melarangnya, sungguh orang itu telah membuat Aku tertawa pada hari begini dan begini suatu kali”.

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Nabi shollallahu alaihi wasallam, berkata (dengan redaksi) “(ALLAH berfirman) : “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya Aku akan memberi balasan hamba-Ku sesuai dengan kadar akal mereka”.

Sekilas kisah diatas terlihat sesuatu yang lucu dan aneh, sampai-sampai dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa ALLAH tertawa dengan perkataan laki-laki tadi, namun begitulah keadaanya, dan ini diperjelas dengan riwayat berikutnya.
Sebenarnya kalau kita cermati kata “pinjaman” sendiri merupakan sesuatu yang mengherankan, sebab dalam hal ini adalah memberi pinjaman kepada ALLAH, sedangkan ALLAH yang Maha Memiliki dan Maha Kaya. Dia juga tidak memerlukan bantuan sesuatupun dari makhluk-Nya karena Dia Maha Berdiri sendiri dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Lalu benarkah ungkapan “memberi pinjaman kepada ALLAH ?”. Dan Adakah hal ini ada dalam syari’at , padahal ALLAH Maha Cukup dan Tidak memerlukan bantuan makhluk-Nya ?. Dan mengapa pula dipakai kata-kata “meminjamkan” ?.

Dalam syari’at kita (selain syari’at yang diwajibkan atas Nabi sebelum ini sebagaimana disebutkan dalam kisah diatas) kita akan temukan ayat-ayat tentang “memberi pinjaman ini” yang kesemuanya menunjukkan amalan yang istimewa dan kedudukan yang tinggi disisi ALLAH bagi para pelakunya, diantaranya dalam surah al-baqarah (2) :245 ; al-maidah (5): 12 ; al-hadid (57) :11 ; at-taghabun (64):17 ; al-muzammil (73) :20.

Firman ALLAH Azza wa Jalla :
إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”. (QS.at-taghabun:17)

Sebenarnya ayat diatas sangatlah jelas dan gamblang bisa difahami. Bahwa ALLAH akan membayar apa saja yang dipinjamkan hamba untuk-Nya. Ayat diatas dan ayat-ayat senada menunjukkan bagaimana sifat Pemurahnya ALLAH kepada hamba-Nya, dan bagaimana pula ALLAH Maha Berterimakasih kepada hamba yang mau meminjamkan sesuatu untuk-Nya.

Tetapi persolannya kemudian, mengapa ALLAH menggunakan kata-kata “PINJAMAN” ?.
Bukankah semua yang ada pada hamba adalah milik ALLAH dan kepunyaan-Nya ?.
Kata-kata meminjam seolah-olah barang pemberian itu milik hamba dan dipinjamkan kepada ALLAH sebagai sebuah hutang karena ALLAH memerlukannya.

Sesungguhnya penggunaan kata-kata “memberikan pinjaman” dalam banyak ayat merupakan kemurahan ALLAH berikutnya, sebab sejatinya manusia itu terkadang merasa memiliki barang dan harta yang ada padanya sehingga ia merasa sangat berat untuk meng-infaq-kan hartanya dijalan ALLAH. Nah, penggunaan kata “memberikan pinjaman” mengandung arti bahwa sesungguhnya ALLAH akan mengembalikan kembali harta seorang hamba yang dikeluarkan dijalan-Nya, sehingga sihamba tidak merasa khawatir harta yang dikeluarkannya akan hilang begitu saja.

Ini adalah janji ALLAH bahwa Dia akan membalas setiap pemberian sihamba dijalan ALLAH, baik itu besar ataupun kecil dan secara tidak langsung ayat-ayat yang senada menunjukkan sifat kikirnya manusia ketika diminta untuk mengeluarkannya dijalan ALLAH, sehingga ALLAH harus menggunakan kata-kata meminjam layaknya seseorang yang berhutang.

Sebagai contoh, ayat 17 surah at-taghabun diatas yang dimulai dengan ayat sebelumnya (yaitu ayat 16) yang menyebutkan “barangsiapa yang dijauhkan dari kekikiran dirinya, maka merekalah orang-orang yang beruntung”. Ayat 16 ini menunjukkan kecenderungan manusia yang bersifat kikir, sehingga orang-orang yang diselamatkan ALLAH dari kekikiran mereka adalah orang-orang yang beruntung.
Jadi, kata-kata “pinjaman kepada ALLAH” bisa dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi yang diberi pinjaman, yaitu ALLAH Azza wa Jalla, dan dari sisi sipemberi pinjaman yaitu manusia.

Adapun dari sisi peminjam, maka kita melihat bahwa betapa besar Kemurahan ALLAH Azza wa Jalla, Dia akan membayar pinjaman, melipatkan bayarannya dan mengampuni dosa-dosa sipemberi pinjaman. Dan sesungguhnya Dia Maha Adil dan tidak menzhalimi hamba-hamba-Nya.

Sedang dari sisi pemberi pinjaman, maka kita melihat bahwa manusia kecenderungannya bersifat kikir sehingga harus diberikan motivasi dengan kata-kata MEMINJAMKAN agar tidak khawatir akan kehilangan apa yang dikeluarkannya. Sedang balasan bagi mereka yang meminjamkan kepada ALLAH yaitu menginfaqkan hartanya dijalan ALLAH, maka dia akan memperoleh banyak keutamaan, yaitu tidak sekedar piutangnya akan terbayarkan akan tetapi juga dia akan mendapatkan bayaran yang dilipatkan berkali-kalinya dari mulai 10kalinya, 700 kalinya atau lebih dan diampuni dosanya.

Oleh sebab itu, hendaklah seorang hamba yang menginfaqkan hartanya dijalan ALLAH memberikan sesuatu yang terbaik serta meng-ikhlashkan niatnya hanya untuk mengharap ridha-Nya dan balasan dari-Nya semata, sehingga apa yang diinfaqkannya akan dilipatkan balasannya hingga 700 kali lipatnya atau lebih besar lagi sesuai dengan yang dikehendaki ALLAH.

Karena alasan inilah kita melihat bagaimana hebatnya para shahabat dan salafush-shalih dalam apa yang mereka infaqkan dijalan ALLAH Azza wa Jalla disebabkan keimanan mereka kepada janji ALLAH.

Diantaranya apa yang disebutkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radyiallahu anh, bahwa dia berkata, “ketika turun ayat (ke 245 dari surah albaqarah) :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ
(Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak), berkatalah Abu Dahdah al-Anshariy : “Wahai Rasulullah, apakah ALLAH benar-benar-benar menginginkan kita memberikan pinjaman ?”. Beliau menjawab, “benar wahai Abu Dahdah”. Abu Dahdah berkata lagi, “ulurkan tanganmu wahai Rasulullah”. Ibnu Mas’ud berkata, “kemudian dia memegang tangan beliau seraya berkata, “Maka sesungguhnya aku telah meminjamkan kepada Robbku kebunku ini”. Ibnu Mas’ud berkata, “Adapun kebun milik Abu Dahdah ini, didalamnya terdapat 600 pohon kurma, juga Ummu Dahdah (istrinya Abu Dahdah) beserta anggota keluarganya tinggal didalamnya”. Ibnu Mas’ud berkata, ‘maka Abu Dahdah datang lalu berseru kepada keluarganya:”Wahai Ummu Dahdah”, Ummu Dahdah menjawab, “ya saya “, abu berkata,”keluarkan engkau (dari kebun ini) karena sesungguhnya ia telah aku pinjamkan kepada Robbku Azza Wajalla’”. (HR.Thabrani didalam Al-Mu’jam al-Kabir 22/301, dengan syawahid dari riwayat lain yaitu hadits yang diriwayatkan dari Anas dan Umar radyiallahu anhuma, begitu pula hadits serupa yang diriwayatkan oleh Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Umar secara Marfu’).

Adapun dari sisi seberapa besar ALLAH akan mengganti pinjamannya, maka (selain bisa berlipat 10 hingga 700 kali lipat) disebutkan bahwa secara nominal bisa berlipat sampai 2juta kali lipatnya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad. Imam Ahmad berkata, “telah menceritakan kepadaku Yazid, bahwa telah memberitakan kepada kami Mubarok bin Fadholah dari Ali bin Zaid dari Abu Utsman an-Nahdhi, ia berkata, “aku mendatangi Abu Hurairah, lalu aku katakan kepadanya,”sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa engkau pernah berkata ‘sesungguhnya kebaikan itu dilipatkan balasannya sejuta kebaikan’. Maka Abu Hurairah berkata, ‘Lalu apa yang membuat engkau kaget darinya?, sedang aku telah mendengarnya dari Nabi shollallahu alaihi wasallam yang bersabda, “Sesungguhnya ALLAH melipatkan balasan kebaikan dengan dua juta kebaikan”. (HR.Ahmad,didalam al-Musnad 2/296, hadits ini gharib, dan Ali bin Zaid bin Jad’an baginya adalah Munkar, tetapi ada riwayat lain yang diriwayatkan oleh Abu Hatim dengan redaksi yang lain yang terdapat dalam al-Musnad 5/521 dari jalur Ali bin Zaid, dari Abu Utsman, yang diantara isinya : Abu Hurairah berkata,”Wahai Abu Utsman, mengapa engkau terkejut dari hal itu ?, sedang ALLAH berfirman : “MAN DZALLADZI YUQRIDHULLAHA QORDHON HASANAN FA YUDHO’AFU LAHU ADH’AFAN KATSIROH” (QS.albaqarah :245) dan Dia berfirman : “FAMAA MATA’UL-HAYAATID-DUNYA FIL-AKHIROTI ILLA QOLIIL” (QS.attaubah:38), Demi Dzat Yang jiwaku ditangannya, sungguh aku telah mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ALLAH melipatkan balasan kebaikan dengan dua juta kebaikan”.

Lalu seberapa besar yang sudah kita pinjamkan dari harta kita, atau waktu kita, atau tenaga kita, atau bahkan jiwa kita dijalan ALLAH ?. Padahal para pendahulu kita telah memberikan pinjaman yang terbaik yang mereka miliki, sampai-sampai mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi tegaknya agama ALLAH dimuka bumi.
Adalah Khonsa’, seorang shohabiyah telah merelakan 4 orang anaknya dijalan ALLAH. Ia seorang ibu yang memberikan dorongan semangat kepada keempat anaknya agar bertempur dengan gagah dimedan perang walau harus kehilangan nyawa mereka. Ia sendiri ikut hadir dipeperangan itu dibarisan para wanita bagian logistic dan medis, peperangan al-Qadisiyah ketika melawan pasukan majusi Persia.
Dan nyatalah, keempat-empatnya gugur sebagai syuhada di ma’rokah. Saat ia mendengar gugurnya mereka, iapun berucap, “Alhamdulillah, semoga mereka menjadi tabungan kebaikanku diakherat kelak”.

Begitu pula Ummu Ibrahim yang hidup dimasa Tabi’en, ia meminangkan Ibrahim anaknya untuk menikah dengan HUURUN ‘IEN (Bidadari surga). Ia sangat rindu untuk mendapatkan kemuliaan seorang mertua dari bidadari surga. Jiwanya menggelegak ketika mendengar seruan jihad dan indahnya bidadari surga yang dikumandangkan oleh seorang ulama di Masjid. Lalu ia memberangkatkan Ibrahim untuk ikut disalah satu pasukan jihad melawan Romawi. Ia juga menginfaqkan hartanya sebanyak 1000 dinar (setara 4250 gram emas) yang ia istilahkan sebagai mahar untuk pernikahan itu.

Dan sungguh ia mendapatkan apa yang ia harapkan. Ketika Pasukan islam kembali dari peperangan, ia menunggu berita tentang anaknya, lalu ketika ulama mujahid yang ia titipkan anaknya kepadanya itu datang, ia menghampirinya lalu bertanya kepadanya, “bagaimana keadaan anakku, apakah lamaranku diterima ?”

Syekh tadi menjawab sambil tersenyum, lalu menyampaikan pesan dari anaknya disaat detik-detik keluarnya ruh menjelang ajalnya. Ibrahim berpesan untuk ibunya, “Wahai ibu, lamaranmu diterima, berbahagialah !”. Ummu Ibrahim bersuka cita demi mendengar berita ini, dan nampak kegembiraan diraut wajahnya, ia bersyukur kepada ALLAH dengan karunia yang agung ini.

Itulah sekilas teladan apa yang telah dipinjamkan oleh para pendahulu kita, dan kini giliran kita untuk memberikan pinjaman-pinjaman terbaik kepada ALLAH dengan apa yang ada pada kita demi tegaknya Dienullah dimuka bumi dan untuk menolong saudara-saudara seiman… Sesungguhnya ALLAH Maha Pemberi Balasan yang lebih baik …. Lebih baik dan lebih banyak,.. serta lebih agung dari apa yang kita pinjamkan kepada-Nya.

Wallahu a’lam.

***Disarikan dari ’ : Tafsir al-Qur`an al-Azhim, Ibnu katsir QS.2:245, QS.64:17 ; Tafsir ath-Thabari QS.64:17 ; Hilyatul-Auliya (sub bab Zaid bin Aslam) ; Kisah generasi pilihan- wafa press, klaten.

0 komentar on "Memberi Pinjaman Kepada ALLAH "

Poskan Komentar

Jumat, 18 Januari 2013

Memberi Pinjaman Kepada ALLAH

Zaid bin Aslam Rahimahullah seorang Tabi’ien berkata, “Dikisahkan bahwa di suatu masa ada seorang Nabi diantara para Nabi, lalu Nabi itu menyuruh kaumnya untuk meminjamkan sesuatu kepada Robb mereka, Azza Wa Jalla. Maka seorang laki-laki dari kaumnya berkata,”Yaa Robb, aku tidak memiliki sesuatu harta kecuali jerami untuk makan keledaiku, maka jika Engkau memiliki keledai, Engkau beri makan keledai itu dengan jerami keledaiku ini”.

Zaid bin Aslam melanjutkan,”Adalah laki-laki itu berdo’a kepada ALLAH dengan perkataan itu tadi”. Zaid berkata,” Lalu Nabinya melarang laki-laki tadi melakukan hal tersebut, maka ALLAH Azza wa Jalla mewahyukan kepada Nabi itu, “Karena alasan apa engkau melarangnya, sungguh orang itu telah membuat Aku tertawa pada hari begini dan begini suatu kali”.

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Nabi shollallahu alaihi wasallam, berkata (dengan redaksi) “(ALLAH berfirman) : “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya Aku akan memberi balasan hamba-Ku sesuai dengan kadar akal mereka”.

Sekilas kisah diatas terlihat sesuatu yang lucu dan aneh, sampai-sampai dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa ALLAH tertawa dengan perkataan laki-laki tadi, namun begitulah keadaanya, dan ini diperjelas dengan riwayat berikutnya.
Sebenarnya kalau kita cermati kata “pinjaman” sendiri merupakan sesuatu yang mengherankan, sebab dalam hal ini adalah memberi pinjaman kepada ALLAH, sedangkan ALLAH yang Maha Memiliki dan Maha Kaya. Dia juga tidak memerlukan bantuan sesuatupun dari makhluk-Nya karena Dia Maha Berdiri sendiri dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Lalu benarkah ungkapan “memberi pinjaman kepada ALLAH ?”. Dan Adakah hal ini ada dalam syari’at , padahal ALLAH Maha Cukup dan Tidak memerlukan bantuan makhluk-Nya ?. Dan mengapa pula dipakai kata-kata “meminjamkan” ?.

Dalam syari’at kita (selain syari’at yang diwajibkan atas Nabi sebelum ini sebagaimana disebutkan dalam kisah diatas) kita akan temukan ayat-ayat tentang “memberi pinjaman ini” yang kesemuanya menunjukkan amalan yang istimewa dan kedudukan yang tinggi disisi ALLAH bagi para pelakunya, diantaranya dalam surah al-baqarah (2) :245 ; al-maidah (5): 12 ; al-hadid (57) :11 ; at-taghabun (64):17 ; al-muzammil (73) :20.

Firman ALLAH Azza wa Jalla :
إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”. (QS.at-taghabun:17)

Sebenarnya ayat diatas sangatlah jelas dan gamblang bisa difahami. Bahwa ALLAH akan membayar apa saja yang dipinjamkan hamba untuk-Nya. Ayat diatas dan ayat-ayat senada menunjukkan bagaimana sifat Pemurahnya ALLAH kepada hamba-Nya, dan bagaimana pula ALLAH Maha Berterimakasih kepada hamba yang mau meminjamkan sesuatu untuk-Nya.

Tetapi persolannya kemudian, mengapa ALLAH menggunakan kata-kata “PINJAMAN” ?.
Bukankah semua yang ada pada hamba adalah milik ALLAH dan kepunyaan-Nya ?.
Kata-kata meminjam seolah-olah barang pemberian itu milik hamba dan dipinjamkan kepada ALLAH sebagai sebuah hutang karena ALLAH memerlukannya.

Sesungguhnya penggunaan kata-kata “memberikan pinjaman” dalam banyak ayat merupakan kemurahan ALLAH berikutnya, sebab sejatinya manusia itu terkadang merasa memiliki barang dan harta yang ada padanya sehingga ia merasa sangat berat untuk meng-infaq-kan hartanya dijalan ALLAH. Nah, penggunaan kata “memberikan pinjaman” mengandung arti bahwa sesungguhnya ALLAH akan mengembalikan kembali harta seorang hamba yang dikeluarkan dijalan-Nya, sehingga sihamba tidak merasa khawatir harta yang dikeluarkannya akan hilang begitu saja.

Ini adalah janji ALLAH bahwa Dia akan membalas setiap pemberian sihamba dijalan ALLAH, baik itu besar ataupun kecil dan secara tidak langsung ayat-ayat yang senada menunjukkan sifat kikirnya manusia ketika diminta untuk mengeluarkannya dijalan ALLAH, sehingga ALLAH harus menggunakan kata-kata meminjam layaknya seseorang yang berhutang.

Sebagai contoh, ayat 17 surah at-taghabun diatas yang dimulai dengan ayat sebelumnya (yaitu ayat 16) yang menyebutkan “barangsiapa yang dijauhkan dari kekikiran dirinya, maka merekalah orang-orang yang beruntung”. Ayat 16 ini menunjukkan kecenderungan manusia yang bersifat kikir, sehingga orang-orang yang diselamatkan ALLAH dari kekikiran mereka adalah orang-orang yang beruntung.
Jadi, kata-kata “pinjaman kepada ALLAH” bisa dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi yang diberi pinjaman, yaitu ALLAH Azza wa Jalla, dan dari sisi sipemberi pinjaman yaitu manusia.

Adapun dari sisi peminjam, maka kita melihat bahwa betapa besar Kemurahan ALLAH Azza wa Jalla, Dia akan membayar pinjaman, melipatkan bayarannya dan mengampuni dosa-dosa sipemberi pinjaman. Dan sesungguhnya Dia Maha Adil dan tidak menzhalimi hamba-hamba-Nya.

Sedang dari sisi pemberi pinjaman, maka kita melihat bahwa manusia kecenderungannya bersifat kikir sehingga harus diberikan motivasi dengan kata-kata MEMINJAMKAN agar tidak khawatir akan kehilangan apa yang dikeluarkannya. Sedang balasan bagi mereka yang meminjamkan kepada ALLAH yaitu menginfaqkan hartanya dijalan ALLAH, maka dia akan memperoleh banyak keutamaan, yaitu tidak sekedar piutangnya akan terbayarkan akan tetapi juga dia akan mendapatkan bayaran yang dilipatkan berkali-kalinya dari mulai 10kalinya, 700 kalinya atau lebih dan diampuni dosanya.

Oleh sebab itu, hendaklah seorang hamba yang menginfaqkan hartanya dijalan ALLAH memberikan sesuatu yang terbaik serta meng-ikhlashkan niatnya hanya untuk mengharap ridha-Nya dan balasan dari-Nya semata, sehingga apa yang diinfaqkannya akan dilipatkan balasannya hingga 700 kali lipatnya atau lebih besar lagi sesuai dengan yang dikehendaki ALLAH.

Karena alasan inilah kita melihat bagaimana hebatnya para shahabat dan salafush-shalih dalam apa yang mereka infaqkan dijalan ALLAH Azza wa Jalla disebabkan keimanan mereka kepada janji ALLAH.

Diantaranya apa yang disebutkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radyiallahu anh, bahwa dia berkata, “ketika turun ayat (ke 245 dari surah albaqarah) :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ
(Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak), berkatalah Abu Dahdah al-Anshariy : “Wahai Rasulullah, apakah ALLAH benar-benar-benar menginginkan kita memberikan pinjaman ?”. Beliau menjawab, “benar wahai Abu Dahdah”. Abu Dahdah berkata lagi, “ulurkan tanganmu wahai Rasulullah”. Ibnu Mas’ud berkata, “kemudian dia memegang tangan beliau seraya berkata, “Maka sesungguhnya aku telah meminjamkan kepada Robbku kebunku ini”. Ibnu Mas’ud berkata, “Adapun kebun milik Abu Dahdah ini, didalamnya terdapat 600 pohon kurma, juga Ummu Dahdah (istrinya Abu Dahdah) beserta anggota keluarganya tinggal didalamnya”. Ibnu Mas’ud berkata, ‘maka Abu Dahdah datang lalu berseru kepada keluarganya:”Wahai Ummu Dahdah”, Ummu Dahdah menjawab, “ya saya “, abu berkata,”keluarkan engkau (dari kebun ini) karena sesungguhnya ia telah aku pinjamkan kepada Robbku Azza Wajalla’”. (HR.Thabrani didalam Al-Mu’jam al-Kabir 22/301, dengan syawahid dari riwayat lain yaitu hadits yang diriwayatkan dari Anas dan Umar radyiallahu anhuma, begitu pula hadits serupa yang diriwayatkan oleh Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Umar secara Marfu’).

Adapun dari sisi seberapa besar ALLAH akan mengganti pinjamannya, maka (selain bisa berlipat 10 hingga 700 kali lipat) disebutkan bahwa secara nominal bisa berlipat sampai 2juta kali lipatnya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad. Imam Ahmad berkata, “telah menceritakan kepadaku Yazid, bahwa telah memberitakan kepada kami Mubarok bin Fadholah dari Ali bin Zaid dari Abu Utsman an-Nahdhi, ia berkata, “aku mendatangi Abu Hurairah, lalu aku katakan kepadanya,”sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa engkau pernah berkata ‘sesungguhnya kebaikan itu dilipatkan balasannya sejuta kebaikan’. Maka Abu Hurairah berkata, ‘Lalu apa yang membuat engkau kaget darinya?, sedang aku telah mendengarnya dari Nabi shollallahu alaihi wasallam yang bersabda, “Sesungguhnya ALLAH melipatkan balasan kebaikan dengan dua juta kebaikan”. (HR.Ahmad,didalam al-Musnad 2/296, hadits ini gharib, dan Ali bin Zaid bin Jad’an baginya adalah Munkar, tetapi ada riwayat lain yang diriwayatkan oleh Abu Hatim dengan redaksi yang lain yang terdapat dalam al-Musnad 5/521 dari jalur Ali bin Zaid, dari Abu Utsman, yang diantara isinya : Abu Hurairah berkata,”Wahai Abu Utsman, mengapa engkau terkejut dari hal itu ?, sedang ALLAH berfirman : “MAN DZALLADZI YUQRIDHULLAHA QORDHON HASANAN FA YUDHO’AFU LAHU ADH’AFAN KATSIROH” (QS.albaqarah :245) dan Dia berfirman : “FAMAA MATA’UL-HAYAATID-DUNYA FIL-AKHIROTI ILLA QOLIIL” (QS.attaubah:38), Demi Dzat Yang jiwaku ditangannya, sungguh aku telah mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ALLAH melipatkan balasan kebaikan dengan dua juta kebaikan”.

Lalu seberapa besar yang sudah kita pinjamkan dari harta kita, atau waktu kita, atau tenaga kita, atau bahkan jiwa kita dijalan ALLAH ?. Padahal para pendahulu kita telah memberikan pinjaman yang terbaik yang mereka miliki, sampai-sampai mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi tegaknya agama ALLAH dimuka bumi.
Adalah Khonsa’, seorang shohabiyah telah merelakan 4 orang anaknya dijalan ALLAH. Ia seorang ibu yang memberikan dorongan semangat kepada keempat anaknya agar bertempur dengan gagah dimedan perang walau harus kehilangan nyawa mereka. Ia sendiri ikut hadir dipeperangan itu dibarisan para wanita bagian logistic dan medis, peperangan al-Qadisiyah ketika melawan pasukan majusi Persia.
Dan nyatalah, keempat-empatnya gugur sebagai syuhada di ma’rokah. Saat ia mendengar gugurnya mereka, iapun berucap, “Alhamdulillah, semoga mereka menjadi tabungan kebaikanku diakherat kelak”.

Begitu pula Ummu Ibrahim yang hidup dimasa Tabi’en, ia meminangkan Ibrahim anaknya untuk menikah dengan HUURUN ‘IEN (Bidadari surga). Ia sangat rindu untuk mendapatkan kemuliaan seorang mertua dari bidadari surga. Jiwanya menggelegak ketika mendengar seruan jihad dan indahnya bidadari surga yang dikumandangkan oleh seorang ulama di Masjid. Lalu ia memberangkatkan Ibrahim untuk ikut disalah satu pasukan jihad melawan Romawi. Ia juga menginfaqkan hartanya sebanyak 1000 dinar (setara 4250 gram emas) yang ia istilahkan sebagai mahar untuk pernikahan itu.

Dan sungguh ia mendapatkan apa yang ia harapkan. Ketika Pasukan islam kembali dari peperangan, ia menunggu berita tentang anaknya, lalu ketika ulama mujahid yang ia titipkan anaknya kepadanya itu datang, ia menghampirinya lalu bertanya kepadanya, “bagaimana keadaan anakku, apakah lamaranku diterima ?”

Syekh tadi menjawab sambil tersenyum, lalu menyampaikan pesan dari anaknya disaat detik-detik keluarnya ruh menjelang ajalnya. Ibrahim berpesan untuk ibunya, “Wahai ibu, lamaranmu diterima, berbahagialah !”. Ummu Ibrahim bersuka cita demi mendengar berita ini, dan nampak kegembiraan diraut wajahnya, ia bersyukur kepada ALLAH dengan karunia yang agung ini.

Itulah sekilas teladan apa yang telah dipinjamkan oleh para pendahulu kita, dan kini giliran kita untuk memberikan pinjaman-pinjaman terbaik kepada ALLAH dengan apa yang ada pada kita demi tegaknya Dienullah dimuka bumi dan untuk menolong saudara-saudara seiman… Sesungguhnya ALLAH Maha Pemberi Balasan yang lebih baik …. Lebih baik dan lebih banyak,.. serta lebih agung dari apa yang kita pinjamkan kepada-Nya.

Wallahu a’lam.

***Disarikan dari ’ : Tafsir al-Qur`an al-Azhim, Ibnu katsir QS.2:245, QS.64:17 ; Tafsir ath-Thabari QS.64:17 ; Hilyatul-Auliya (sub bab Zaid bin Aslam) ; Kisah generasi pilihan- wafa press, klaten.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Aulia's Porch Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal