Kamis, 25 Juli 2013

4 Perkara yang Terasa Berat

Shohabat Ali Karromallahu Wajhah yang juga merupakan keponakan dan menantu Rasulullah SAW pernah berkata bahwa ada 4 perkara yang sangat berat untuk dilakukan oleh seorang muslim. Empat perkara ini sebenarnya bisa dilakukan  siapa saja jika kondisinya normal. Tapi dalam kondisi yang abnormal, 4 perkara ini terasa begitu berat. Apa saja itu?

1.  Al’afwu ‘indal ghadhab atau memberi maaf ketika dalam keadaan emosi. Memberikan maaf bukanlah hal yang mudah apalagi ketika dalam keadaan emosi. Untuk itulah Rasulullah saw pernah mengajari para sahabat untuk mengambil air wudhu untuk meredamkan marah.  Karena marah merupakan bentuk lain dari api syaitan yang menyala-nyala, dan api itu hanya bisa dikalahkan oleh air wudhu.

Jika dalam keadaan tidak marah, mungkin lebih mudah bagi kita memaafkan orang lain. Kondisi manusia memang demikian ketika sedang marah, sulit sekali mengendalikan diri, oleh karena itu jika seseorang dalam keadaan marah masih bisa memberikan maaf kepada orang lain, maka sungguh itulah amal yang berat.

Oleh karena itu, Allah swt menjamin siapapun yang dapat mengendalikan emosi dan amarahnya selamat dari siksaan api neraka . Demikian keterangan sebuah hadits yang berbunyi:

 “Barang siapa yang mampu mengendalikan amarahnya, maka Allah akan mengendalikan (menjauhkan ) siksa-Nya.”   

2. Al juudi fil ‘usroh atau menjadi pemurah dan dermawan ketika kondisi ‘saku’ (keuangan) kita sedang sempit atau tidak mapan. Sedang ‘kanker’ alias kantong kering. Menjadi dermawan bukanlah perkara gampang, apalagi berlaku dermawan ketika kondisi keuangan sangat menipis. Oleh karena itu Allah swt memposisikan orang dermawan sangat dekat dengan-Nya. dalam sebuah hadits diterangkan:

“Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surge, dekat dengan masyarakatnya dan jauh dari neraka”

Hadits ini bukanlah sekedar hadits motifasi, tetapi merupakan petunjuk dan rambu-rambu bagi siapapun yang ingin memposisikan diri dekat dengan Allah swt, maka hendaklah ia menjadi orang yang dermawan. Baik dalam kondisi longgar, lebih-lebih dalam kondisi sesak.

3. Al-iffah fil khulwah,yaitu menghindarkan diri dari tindakan atau perbuatan haram dalam keadaan sepi tanpa ada siapapun yang melihatnya. Amal ketiga ini merupakan ujian akan keikhlasan seseorang dalam beramal. Bahwa untuk melakukan ataupun menghindari dosa seseorang tidak perlu memperhatikan orang di lingkungannya. Karena jika seseorang melakukan sesuatu (amal) karena orang lain akan disebut riya, dan jika meninggalkan sesuatu karena orang lain menjadi syirik. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Iyadh:

“Tidak melakukan sesuatu (meninggalkan sesuatu) karena manusia adalah riya, dan melakukan sesuatu karena manusia adalah syirik”

4. Qaulul haq liman yahofuhu au yajuruhu, yaitu berkata benar di depan orang yang ditakuti atau diharapkan pertolongannya.  Jelas sekali materi terakhir ini berhubungan dengan kejujuran. Karena kebanyakan orang berbicara menyesuaikan atau melihat siapa yang diajak bicara. Seringkali orang akan membicarakan hal-hal yang disukai lawan bicaranya, apalagi jika lawan bicaa itu adalah orang yag ditakuti kareha hubungan kerja atau hubungan keluarga. Dengan kata lain amal terberat ke eempat ini merupakan usaha meghindarkan diri dari kebiasaan menjilat. Baik menjilat kepada atasan atau kepada orang yang diharapkan

Ingat seperti kata peribahasa arab : Qulil haqqo walau kaana murron…Katakanlah kebenaran waluapun pahit adanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar