Jumat, 26 Juli 2013

Bintang Pendukung Kehidupan






Tidak mudah mencari bintang yang bisa mendukung kehidupan, karena tidak ada bintang yang persis sama dengan Matahari. Padahal bisa dibilang Matahari itu sangat ideal bagi kehidupan.
Bulan September 2003, astrobiolog Margareti Turnbull dari Universitas Arizona mengidentifikasikan 30 bintang dari 5000 bintang yang berjarak 100 tahun cahaya dari Bumi, sebagai kandidat induk kehidupan Bumi yang kompleks. Pencarian ini merupakan bagian dari proyek Allen Telescope Array dari SETI yang selesai tahun 2005. Bersama Jill Tarter ia membuat katalog berisi 120000 bintang yang dbagi dalam 17000 kelompok untuk menentukan kriteria yang pas untuk bintang pendukung kehidupan.
Seandainya air bisa ditemukan di planet, kehidupan belum tentu bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Ada faktor lain yang juga mempengaruhi, seperti usia hidup bintang.  Bintang seperti apakah yang bisa mendukung terbentuknya kehidupan? Yang jelas bintang tersebut diindikasikan memiliki temperatur di antara 4000 K - 7000 K atau bisa dikatakan cocoknya pada bintang kelas F awal, G atau kelas K pertengahan.  Atau hanya pada bintang - bintang bermassa kecil atau < 1,5 massa Matahari.  Mengapa demikian?
Bintang kelas menengah atau bintang yang massanya < 1,5 massa Matahari, usia hidupnya cukup panjang sampai beberapa milyar tahun. Ini bisa memberikan kesempatan bagi munculnya kehidupan sampai kehidupan itu berevolusi.  Bintang - bintang pada kelas spektrum tersebut juga memancarkan radiasi ultraungu frekuensi tinggi yang dapat memicu aktivitas atmosferik penting seperti pembentukan ozon. Tapi ozon yang terbentuk tidak banyak sehingga ionisasi yang terjadi tidak menghancurkan kehidupan yang baru tumbuh. Yang terakhir dan yang seringkali jadi syarat utama adalah planet-planet yang mengorbit bintang kelas menengah tersebut dapat memiliki air dalam wujud cair. Sayangnya, daerah laik huninya pada bintang seperti ini sangat sempit. Hal ini memperkecil kemungkinan ditemukannya planet pada daerah tersebut.
Untuk bintang bermassa besar > 1,5 massa Matahari atau bintang yang berada di kelas spektrum O, B dan A dengan kisaran temperatur 7500 K sampai lebih dari 30000 K, memang memiliki daerah laik huni yang cukup lebar. Pas untuk terbentuknya planet terrestrial. Sayangnya, usianya pendek. Umumnya kurang dari 1 milyar tahun dan bahkan ada yang kurang dari 10 juta tahun.  Akibatnya, ketika kehidupan bertumbuh di bintang seperti ini, jelas kehidupan itu tidak akan sempat berevolusi. Diperkirakan pada bintang bermassa paling besar yang cocok pun kehidupan hanya bisa berlangsung sekitar dua miliar tahun. Pada kondisi ini planet tidak memiliki waktu untuk membentuk kehidupan di permukaan tanahnya (contoh : pohon).
Untuk kondisi bintang bermassa kecil < 0,5 massa Matahari seperti misalnya bintang kelas M, zona laik huninya sangat sempit dan berada sangat dekat dengan bintang. Masalahnya adalah planet yang mengitari bintang pada jarak sangat dekat akan mengalami tidal lock atau terkunci secara gravitasi pada bintang induk sehingga hanya satu sisi wajah planet yang akan selalu berhadapan dengan bintang
Peritiwa terkunci secara gravitasi seperti halnya Bulan yang selalu memperlihatkan sisi wajah yang sama ke Bumi, bagi planet di bintang kelas M akan menyebabkan kehancuran bagi atmosfer yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan melalui kondensasi pada sisi planet yang gelap dan dingin (sisi yang tidak berhadapan dengan bintang). Selain itu, bintang katai merah ini pada umumnya akan mensterilkan kehidupan di planet yang mengorbit dekat dengannya lewat flare (ledakan / badai) bintang yang besar.  Meskipun demikian, dalam pencarian planet ekstrasolar, ada beberapa planet  (Gliese 581 d dan Gliese 667C c) yang ditemukan berada pada zona laik huni bintang katai merah dan dikategorikan planet laik huni. Tapi seperti apa evolusi planet itu di masa depan belum diketahui.
Meskipun perjalanan untuk bisa menemukan Bumi 2.0 aka saudara kembar Bumi tampak masih sangat jauh di depan kita, namun harapan yang dipupuk sejak berabad-abad lampau itu sudah mulai menuai hasilnya. Pengamatan landas Bumi maupun landas angkasa yang dilakukan berhasil memberikan hasil menakjubkan dengan ditemukannya planet Bumi Super dan batas bawah ukuran planet yang ditemukan semakin rendah bahkan ada yang lebih kecil dari Bumi (KOI 55c dengan ukuran 0,76 radius Bumi).  Tak hanya itu, atmosfer planet ekstrasolar juga sudah bisa dideteksi dan ini tentu menjadi langkah maju bagi para pemburu planet untuk bisa mengenal lebih dekat planet-planet yang bahkan tak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Di masa depan yang “tak lama lagi”, harapan untuk menemukan Bumi 2.0 tentu tak lagi tinggal harapan karena ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Tapi lagi-lagi pertanyaannya, kehidupan seperti apa yang sedang kita cari dan akan kita temukan? Syarat yang ditetapkan untuk dicari adalah untuk kehidupan yang kita kenal di Bumi ini. Bagaimana seandainya Bumi lain itu memiliki kehidupan yang basisnya bukan karbon? Jawaban itu masih menjadi misteri bagi manusia ...***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar