Senin, 16 November 2015

Dulu, Buku & Kita. a love letter for the lovely one.

Jika ada yang bertanya padaku tentang sesuatu yang paling romantis, maka jawabannya sederhana; buku. Buku mampu melipat kesenjangan yang diciptakan ruang dan waktu, menjadikan hangat setelah beku, menciptakan tawa lepas setelah kaku. Bukan begitu Bu? Ada sesuatu yang membuat ragaku ingin menghabiskan senja di tempat itu. Tempat yang masih kuingat detailnya; tangga kayu, komputer kotak, kursi tamu, karpet bulu dan tentu saja si primadona rak buku--novel-novelnya. 

Hampir di ujung senja, aku sudah berdiri di hadapannya. Mengamati sejenak selagi ia masih belum menyadari kehadiranku.
 "Bu....." sapaku yang entah ragu entah malu. Wanita berpakaian serba biru itu menoleh, 3 detik kemudian ia melakukannya. Ya, menyebut namaku dengan cara yang berbeda. Bukan dengan nada mengabsen seperti 7 tahun lalu. Bukan. Nadanya lembut, seperti seorang ibu yang memergoki anaknya pipis di celana (maaf) tapi tidak marah. Mungkin sejenis terkejut atau heran. Entahlah. 
Dia menggenggam tanganku setelah aku berhasil mencium tangannya yang dulu berdebu kapur. Adegan keheranan itu berlangsung lumayan lama dan berulang. Akan kuceritakan kemudian.

 Keheranan pertama terjadi saat kami saling sapa dan sentuh untuk pertama kalinya. Wanita cantik itu terus menatapku sebelum akhirnya ia mempersilakanku masuk. Aku tak heran, mungkin ia harus mengidentifikasi tamunya ini secara organoleptik; bentuk, warna & aroma, barulah ia yakin bahwa aku adalah makhluk yang sama dengan yang ia kenal 7 tahun lalu. Suasana kediamannya masih sama. Tenang dan sepi. Tidak ada detak jarum jam yang terdengar, hanya suara detak jantungku yang seolah berdebam. Salah satu awkward moment bagiku ketika aku terus diamati lekat-lekat. Mungkin itu pemicu jantungku berdegup tak karuan, selain karena faktor 'long time no see' tentunya. 

Akhirnya, ia mengatakan sesuatu yang membuatku ingin jungkir balik; "you look more mature now". Aaaaaah. Ingatanku kembali pada 7 tahun silam, selepas pertemuan redaksi di suatu siang, karena sesuatu hal aku harus mengahadap padanya. Sesuatu tentang masa muda dan merah muda. Saat itu aku memang tertutup, merasa risih dan careless dengan fase merah muda. Sampai untuk curhat & menasehati saja, kita harus menulis surat. 
Masih ingat Bu betapa 'menggelikannya' saat itu? Mungkin saat ibu mengucapkan: "You look more mature now" itu, ibu lupa pernah menyebutku dengan sebutan Ms. Headstone di salah satu surat kita. Atau mungkin hanya appearence-nya saja yang mature, tingkahnya wallahuam. Hihi...

Pembicaraanpun mengalir dengan mudahnya, seolah 'lorong waktu' berhasil hadir dan membuka segalanya. Di sela-sela obrolan kami, aku masih bisa merasakan 'tatapan identifikasi' yang menghujamiku. Aku bisa apa selain mengalihkan pandangan atau menunduk? Bagiku, setelah 6 tahun berlalu hampir tidak ada perubahan signifikan dari sosok di hadapanku. Wajahnya, perawakannya, gaya bicaranya, tatapannya, senyumannya. Hanya satu yang berbeda; pelukannya. Kapan terakhir kali aku dipeluknya? Aku tak ingat karena ini memang kali pertama. Jangan kalian tanya bagaimana rasanya. Wow man! Wooooow! 

Dulu, jangankan kepikiran tentang pelukan. Suara decit sepatunya saat memasuki kelas saja rasanya dunia seperti sedang siaga 2 saking tegangnya. Apalagi saat absensi untuk siapa dulu yang maju dan tampil di depan. Bu, sampai detik ini aku masih mengingat bab Musikalisasi Puisi di kelas 9G. Ninja Hatori. Ya, OST Ninja Hatori yang dirubah liriknya. Itulah yang aku suguhkan.
Prediksi nilainya hanya tujuh koma. Sungguh, aku pasrah Bu. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk menjadi orang belakang layar saja. Meskipun begitu, aku tidak lantas membenci ibu dan mata pelajaran ibu. Masih ingat bab Apresiasi Karya Seni? Aku bersedia maju pertama kalinya untuk mengomentari selembar foto Festival Layang-Layang yang aku gunting dari harian Pikiran Rakyat. Nilaiku delapan koma plus applause. Aku tidak pandai bernyanyi Bu. Tapi mungkin aku bisa sedikit berbicara. Semoga hal itu tidak membuatmu kecewa. Sudahlah, semua itu adalah 'dulu' yang melebur dalam pelukan hangat 6 tahun kemudian. 

Tibalah pada chapter yang aku inginkan. Book time! Saat bagi kami berbicara tentang novel sains fiksi, mengabsen novel apa saja yang pernah kami baca, membocorkan book wish list, beropini dan tentu saja aku merasa kalah telak saat ibu mengajakku berhadapan dengan jejeran novel di rak buku. Tapi meskipun aku kalah, itu semakin membuatku menyukaimu Bu. Percayalah. Saat ibu menunjukkan novel-novel, menceritakan sedikit sinopsisnya, penulisnya dan apapun itu tentang buku-bukumu aku bisa melihat matamu berbinar, senyummu melebar. Tentunya kaupun bisa melihat hal yang sama terjadi padaku, bahkan lebih. Excited Bu! Seperti menemukan rekan satu klan yang sudah lama terpisah dan kini kembali untuk melihat sesuatu dari sudut yang sama; sudut penyuka buku.

Bu, aku menyukai semuanya tentang ibu, dari peranmu sebagai ibu, guru, penggemar buku dan sahabat baik. Aku memang bukan anak sulungmu, tapi aku bisa memanggilmu 'ibu' dan kau bisa memanggilku 'sayang/honey' seperti yang kau lakukan pada kedua anakmu. Tuhan memang baik, karena kalau aku anak sulungmu pastilah kita akan bersaing siapa yang paling banyak membaca novel science fiction. Dan sepertinya jika itu terjadi maka pikiranku akan rusak karena disuguhi dystopia dan utopia setiap waktu. Sehingga aku lebih menyukai berhadapan dengan alam fiksi dan lumpuh di dunia yang sebenarnya saat ini.

Bu, mamaku memang tidak seperti ibu yang suka membaca novel, tapi mamaku sangat baik. Mamaku lebih suka menyimpankan novel yang kubaca lengkap dengan bookmark & kacamata, menyelimuti dan mematikan lampu apabila aku ketiduran. Manis sekali kan Bu?

Bu, kita tak pernah ada di frame yang sama. Apakah yang harus kulakukan jika rindu? Apa yang harus kupandangi? Lalu, aku teringat pada 3 novel sci-fi tebal yang ibu hadiahkan padaku. Sementara sebelum kita muncul di frame yang sama, aku akan memeluk mereka jika rindu. Seperti ibu memelukku di akhir senja itu. 


*untuk Master Scifi-ku, yang berhasil membuatku jatuh cinta pada sains fiksi, yang dengan keukeuhnya bilang aku itu makhluk 'potensil'.
dear Mrs. Anne Anita Permatasari, you raise me up :)

(171115 _ 00:25)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar