Sabtu, 19 Desember 2015

Keabadian Tak Bersudahan

697 halaman dari 42 chapter.
Gerimis di luar sana, mengiringiku menyelesaikan misi untuk menikmati novel tebal itu.
Aku tergugu,
Betapa.
Ya, betapa.
Betapa cinta adalah secarik kata yang mampu mewarnai seluruh luas samudera. 

Betapa cinta adalah sekeping kata yang mampu memanggil gerimis bersih nan menyejukkan di tengah gurun luas tak berbatas. 
Betapa cinta adalah setitik cahaya yang mampu membimbing gelap bertemu remang hingga akhirnya menemukan benderang.
Betapa.
Betapa bahagia mereka yang berkasih sayang tak berkesudahan. 

Betapa bahagia mereka yang saling memuliakan cinta, atas nama-Nya, atas kasih-Nya.
Aku menghela nafas panjang.
Dadaku sesak, diliputi sejuta pengharapan yang tak berkesudahan. 

Mataku sembab, mengalirkan perasaan yang tak terkatakan.
Aku rindu,
Sungguh rindu.
Harapan itu, akankah bisa kutemukan jalan agar segera bisa kuukir dalam jalan takdir-Mu?
Temukan aku yang kini tersesat dan terlunta. 

Temukan aku dengan dia yang mampu meraih tanganku, memberikan sandaran, 
menunjukkan jalan dan sama-sama berlari pada satu tujuan.
Pertemukan aku dengannya,
Karena aku tahu, dunia adalah kefanaan berbatas waktu yang melenakan.

Aku tak ingin terpeleset, aku tak ingin nantinya diliputi penyesalan.
Aku ingin ada yang membisikkan bahwa persinggahan ini bukanlah tujuan, bahwa aku dan dia harus tetap berjalan.
Pertemukan aku dengannya,
Dengan dia yang mampu meredam sedihku,
Dengan dia yang mampu memperbaiki salahku,
Dengan dia yang tak lelah berjalan bersisian pada titian menuju satu titik tujuan.
Ya, pertemukan aku dengannya,
Jika memang nantinya aku harus mengecap manisnya rahmah dalam hatiku, 

izinkan aku menjaganya untuk kemudian kuberikan seutuhnya pada nama itu dengan ridha-Mu.
Dengan nama yang terukir di Lauhul Mahfuz, berdampingan dengan namaku, atas izin-Mu, atas takdir-Mu.
Wahai Dzat yang meliputi semesta dengan rahmah,
Karena sesungguhnya, Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui Semesta Raya,

aku disini berusaha sebisaku menyimpannya, menjaga kesempurnaannya.
Jangan Kau biarkan rahmah itu tercecer lewat pandangan yang lalai kutundukkan. 

Jangan Kau biarkan rahmah itu menguap karena sentuhan yang tak mampu kuelakkan. 
Jangan Kau hapuskan rahmah itu karena rapuhnya kesabaran.
Wahai Dzat Yang Menggenggam Hati,
Izinkan aku mengecap rahmah itu di jalanmu, dengan ridha-Mu.
Hingga kelak apabila rahmah itu berbuah, akan muncul kesempurnaan dalam manisnya penghambaan.
Izinkan aku memeluk rahmah itu dengan lahir-batinku,
Izinkan aku menjadikan rahmah itu sebagai penunjuk jalanku, 

karena rasanya tak terbendung lagi kerinduan ini akan janji-Mu, akan kenikmatan berjumpa dengan-Mu.
Hingga kelak rahmah itu melekat menjadi pakaian bagi dunia dan akhiratku.
Bila tiba masaku, biar pecah rinduku menjadi syair cinta dan gumaman doa, 

di sepanjang siang, di sepanjang malam. Beri aku tempat yang mudah & benderang, setelah kau temukan aku di tebing yang muram & curam.
Beri aku teman setelah lama berjalan sendirian.
Lalu dengan senyum terindah, 

aku dan dia akan berjalan beriringan dalam keabadian, menuju surga yang Kau janjikan.
Semoga.



19:48_16.12.15
*Inspired by love story between Aisha & Fahri on AAC2.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar