Sabtu, 26 Desember 2015

Resensi Novel Ayat-Ayat Cinta 2

                                                                  Cinta Tak Berkesudahan


Judul Buku          : Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis                : Habiburrahman El-Shirazy
Editor                 : Syahruddin El-Fikri
Penerbit              : Republika
Cetakan              : Cetakan I, November 2015


                                                

                                                    "innama asyku batstsi wa huzni ilallah"
             (sungguh hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.) Q.S Yusuf :86
  Begitulah cara Fahri menenangkan batinnya, dzikir tidak pernah kering dari lisannya. Rentetan peristiwa pahit yang ia alami sejak menikah dengan Aisha seolah tiada usai. Mulai dari penangkapan dan fitnah yang dilayangkan pada Fahri oleh Noura--tetangga Flat yang ia tolong sewaktu di Mesir, wafatnya Maria--istri kedua Fahri yang telah berhasil membebaskan Fahri dengan kesaksiannya, Aisha yang harus kehilangan janinnya dan kini rasanya lebih nelangsa karena Fahri harus kehilangan Aisha yang hilang kontak sejak kepergiannya ke Palestina bersama rekannya, seorang jurnalis Amerika, Alicia. 

Rasa kehilangan Aisha tak dipungkiri nyaris membuat Fahri gila. Bagaimana tidak, kerinduan, kasih sayang dan rasa cintanya pada Aisha begitu menggebu setiap waktu. Membuat Fahri semakin menenggelamkan diri dalam penghambaannya kepada Tuhan. Segala macam cara telah ia lakukan demi menemukan Aisha, tapi takdir tak kunjung mempertemukan mereka.

Meski begitu menyesakkan, Fahri tidak lantas larut dalam kesedihannya. Sebagai seorang pengajar di Edinburgh University yang juga sedang menempuh postdoc, Fahri tahu bagaimana caranya menyibukkan diri agar tidak selalu mengenang Aisha. Disamping karirnya yang cemerlang, Fahri pun kerap diundang di berbagai institusi sebagai pembicara baik dengan basic keilmuannya maupun untuk berceramah dan mengajarkan ilmu agama. 

Bisnis yang ia bangun bersama Aisha dan Ozan melesat, menghasilkan laba dan menelurkan cabang yang kian meningkat setiap tahunnya. Dengan segala kesuksesan yang telah ia raih, para kolega dan rekan yang sangat menghargai dan mencintainya, Fahri masih saja merasa hampa. Ruang kosong di hatinya itu hanya milik Aisha. Setiap hari, Fahri tidak pernah lupa untuk berdoa dan bersedekah atas nama Aisha, meminta agar Allah menjaga serta memberikan tempat terbaik bagi Aisha, apapun keadaannnya, hidup ataupun mati. Itulah bukti cinta yang sesungguhnya, menitipkan kembali kekasih hati yang paling ia sayangi kepada Penciptanya.

Ketiadaan Aisha di sisi Fahri tidak lantas memudarkan cahaya cinta yang ada pada dirinya. Baginya, cinta adalah sifat Tuhan. Cinta adalah refleksi dari keberadaan agama. Bahkan, cahaya cinta itu semakin benderang kala ia harus berhadapan dengan isu-isu terkait teroris yang tentu saja memuramkan wajah islam. Memperbaiki citra islam di dunia barat adalah misi besar Fahri.

Itulah yang sedang Fahri lakukan pada tetangganya. Kakak-beradik Keira dan Jason adalah tetangga terdekatnya, namun juga ternyata sangat membenci Fahri karena stigma muslim begitu buruk di dunia barat. Terlebih insiden pengeboman yang diduga dilakukan oleh teroris muslim yang menewaskan ayah mereka yang praktis meruntuhkan mimpi-mimpi besar Keira dan Jason. Keira dengan keinginannya untuk bersekolah musik untuk mengasah bakat bermain biolanya yang luar biasa, dan Jason dengan bakat mengolah si kulit bundar di lapangan hijau 

Teror demi teror yang Keira lakukan tidak lantas membuat Fahri ingin membalasnya dengan hal serupa, justru itu adalah menjadi jembatan bagi Fahri untuk menunjukkan sisi 'rahmatan lil alamin' dari agamanya. Tak disangka, peristiwa pencurian yang dilakukan Jason di minimarket milik Fahri membuka jalan bagi Fahri untuk memuluskan niatnya. Ia bersedia menanggung semua biaya agar Jason bisa berlatih bersama tim sepak bola profesional, juga bersedia membiayai Keira agar bisa berlatih biola bersama Madam Varenka, salah seorang instruktur biola terbaik. 
Bakat Keira ternyata luar biasa, ia berhasil menjadi runner up dalam sebuah kejuaraan. Tidak berhenti sampai disitu, Fahripun terus berada di belakang layar saat Keira mengikuti kejuaraan bertaraf internasional. Selama itu, tidak ada yang tahu soal kebaikan Fahri, selain jason, Madam Varenka dan juga Mrs.Suzan, orang kepercayaan Fahri.

di Stoneyhill Groove, Fahri pun memiliki seorang tetangga yang sudah udzur usianya. Nenek Catarina adalah seorang Yahudi yang taat beribadah. Kedekatan mereka bermula saat Fahri menemukan Nenek Catarina yang tengah kesakitan, sedangkan ia harus pergi ke tempat ibadah. Fahripun dengan tulus mengantar Nenek Catarina menuju tempat ibadahnya. Sejak saat itu, Nenek Catarina sakit-sakitan, terlebih saat Baruch, anak tirinya yang seorang tentara Zionis Israel datang dan mengusir Nenek Catarina dari kediamannya. Memang benar bahwa rumah Nenek Catarina tersebut telah diwariskan oleh mendiang suaminya kepada putranya Baruch. Nenek Catarina enggan beranjak, karena baginya rumah itu adalah kotak kenangan miliknya. Maka apa yang Fahri lakukan kemudian sungguh menggetarkan jiwa. Fahri mengajarkan toleransi dan perngorbanan yang sangat tulus dan indah. 

Di kediamannya saat ini, Fahri memiliki seorang pelayan. Paman Hulusi namanya, dengan setia mengantar dan melayani Fahri. Semuanya mulai menarik ketika Fahri memberikan sedekah pada seorang pengemis berjilbab yang bersuara serak. Entah mengapa, Fahri merasa bahwa ia berkewajiban untuk memperbaiki citra muslim dan salah satu tindakan riil yang harus ia lakukan adalh menolong sister itu. Tanpa sengaja Fahri menemukan wanita tersebut yang mengaku bernama Sabina tengah shalat dhuha di areal terbuka, lalu tiba-tiba Sabina roboh. Fahri dan Paman Hulusi segera melarikannya ke Rumah Sakit. Setelah kondisi Sabina membaik, Fahri mengajak Sabina untuk tinggal di Stoneyhill Groove. Setidaknya ia ingin memastikan keadaan Sabina baik-baik saja, terlebih Sabina memang homeless. Sabina setuju, ia pun tinggal di Stoneyhill Groove dan ditempatkan di kamar yang berada di basement. 

Waktu terus berjalan, perasaan cinta dan rindu Fahri terhadap Aisha tidak pernah berkurang sedikitpun. Sementara itu tawaran dan himbauan untuk menikah lagi sudah banyak berdatangan. Awalnya Fahri selalu mengelak dan menghindari pembicaraan yang menyangkut topik ini, hingga suatu hari Fahri didatangi Syaikh Utsman, guru talaqqi nya semasa di Mesir. Kedatangan beliau bukan sekedar untuk bersilaturahmi ataupun memenuhi undangan dari para ulama di Inggris, namun juga untuk menawarkan cucu beliau untuk dinikahi.
Yasmin. Ya, Yasmin namanya. Seorang wanita cantik dengan jenjang pendidikan tinggi. Siapa yang mampu menolak pesona Yasmin, terlebih ia adalah cucu Syeikh Utsman?
Allah lah yang membolak-balikan hati. Perkenalan mereka tidak berlanjut pada jenjang berikutnya, sesungguhnya Fahri merasa lega karena ia tidak mampu mengisi hatinya dengan selain Aisha. 

Beberapa hari menjelang pelaksanaan Debat di Oxford dimana Fahri adalah salah seorang pembicaranya, Fahri pergi berjalan-jaln dengan keluarga besar Ozan yang tak lain adalah kakak Hulya, sepupu Aisha. Sebelum hari itu Fahri sempat bermimpi bertemu dengan mendiang ibu dan juga Aisha di Mekkah. Mimpi itulah yang meyakinkan Fahri bahwa sudah saatnya Fahri membuka diri, mencoba mengisi kehampaannya meskipun ia tahu tak mungkin rasanya ia bisa mencintai wanita lain sebesar ia mencintai Aisha. Bada Shalat Ashar berjamaah, Fahri melakukannya. Ya, melamar Hulya. 

Sebelum melamar Hulya, Fahri sesungguhnya telah melamar Sabina. Berawal dari insiden di sebuah kafe pada suatu malam, Fahri merasa Sabina telah menyelamatkan nyawanya. Tapi yang mengesankan Fahri bukan sekedar 'berhutang nyawa', tapi bagaimana Sabina membela Rasulullah dan keluarganya, bagaimana Sabina membela kehormatan Nabi Allah tersebut walau harus mengorbankan nyawa. Fahri sungguh jatuh cinta pada apa yang ada dalam hati Sabina. Namun, Sabina malah menolak lamaran Fahri tersebut. Menurutnya, ia sama sekali tidak sekufu dengan Fahri. Terlebih wajahnya yang rusak dan buruk rupa tidak pantas bersanding dengan wajah tampan Fahri. Ia takut akan membebani dan menyakiti hati Fahri dengan rupanya. Malah Sabina mengusulkan agar Fahri menikahi Hulya. Mata Sabina berkaca-kaca. Ada perasaan yang tidak dapat dijelaskan menggerogoti hatinya.

Pesta pernikahan berlangsung meriah di Central Oxford Mosque. Mereka berbulan madu di The Savoy Hotel di pinggir sungai Thames, London. Hanya saja Fahri merasa bersalah, ia merasa telah mengkhianati Aisha. Hingga selama 3 bulan setelah menikah, bahkan Fahri tidak bisa memberikan apa yang sebelumnya ia berikan hanya kepada Aisha. Hulya kecewa, ia sadar ia tidak bisa menceritakan aib ini pada siapapun, tapi ia percaya pada Sabina yang kini telah menjadi pelayan di rumah Fahri. Sabina banyak menasehati Hulya, bahkan ia menyuruh Hulya untuk berlaku romantis. Ia memberikan sebuah puisi sebagai pengantar kemesaraan untuk Hulya dan Fahri.

Beberapa bulan setelah itu, Hulya hamil. Tak terkira kebahagiaan yang menyelimuti rumah itu. Begitupun Sabina. Bahkan setelah bayi yang dinamai Umar itu lahir, Sabinalah yang menjadi ibu angkatnya. Ia yang banyak menemani dan mengasuh Umar. Begitupun Umar, ia merasa memiliki ikatan batin dengan Sabina. 

Tahun-tahun berlalu, kini Hulya mengandung anak kedua. Sungguh sempurnalah kehidupan keluarga kecil Fahri. Hingga suatu saat, Keira akan mengadakan sebuah konser biola, namun karena sesuatu hal rekan duetnya berhalangan hadir. Keira meminta Hulya yang memang sudah ikut kompetisi biola bersama Keira dan berhasil memenanginya untuk menjadi rekan duetnya. Hanya saja Hulya tidak melanjutkan ke kompetisi internasional atas permintaan Fahri. Awalnya Hulya menolak, namun ia merasa tidak enak kepada Keira. Fahripun mengizinkan Hulya untuk menjadi teman duet Keira dan meminta maaf karena ia memiliki kesibukan sehingga tidak bisa menemani Hulya. 

Konser berlangsung lancar, merekapun pulang dengan perasaan gembira. Keira dan Hulya sempat mampir ke sebuah minimarket dan toilet, disana ternyata Keira hendak mengalami pelecehan oleh 2 orang pemuda, Hulya berusaha menyelamatkan Keira. Mereka berhasil lolos dan masuk kedalam mobil, mereka sepakat Hulya lah yang menyetir. Disaat Hulya keluar dari mobil untuk bertukar posisi, tiba-tiba 2 orang pemuda tersebut menyerang Hulya. Hulyapun segera dibawa ke rumah sakit.

Fahri segera datang saat mengetahui kondisi istrinya. Namun itu ternyata saat-saat terakhir bagi mereka untuk bersama. Hulya wafat dengan meninggalkan 3 wasiat. Salah satunya adalah ia berwasiat agar wajahnya didonorkan kepada Sabina. Fahri bergegas meminta persetujuan Sabina, idan Sabinapun mengiyakan. Prosedur operasi segera dilakukan. Sabina dikarantina selama ia belum pulih. Tak terbendung kerinduannya pada Umar.  Dan juga ia bertanya-tanya akan seperti apa reaksi Fahri saat melihat wajah Hulya di wajahnya.

Sedangkan di kediamannya,  Fahri, menatap meja belajar Hulya yang sengaja tidak dirapikan sejak kepergiannya. Fahri menemukan buku berisi puisi yang telah Hulya tandai. Puisi itulah yang selalu menjadi pengantar bagi dirinya dan Aisha sebelum 'beribadah', ia menemukan catatan tangan Hulya. Fahri merasa tersentak. Ia segera menggeledah kamar Sabina, berharap menemukan suatu petunjuk. Ia hanya menemukan sebuah tas tangan mahal yang merupakan hadiah dari Hulya untuk Sabina. Didalamnya ia menemukan sebuah cincin dan selembar foto yang tak asing lagi baginya. Fahri sungguh didera rasa penasaran. Ia menyusul ke rumah sakit dan meminta dokter untuk mengoperasi pita suara Sabina. Saat Sabina telah dibius total, Fahri melakukan sesuatu kepada Sabina untuk menuntaskan rasa penasaran dan untuk menumbuhkan keyakinannya.

Fahri tidak salah.
Sabina adalah Aisha.


*
Novel ini sungguh memberikan pemahaman yang luas tentang definisi cinta. Cinta sebagai hamba, cinta sebagai pasangan, cinta sebagai seorang tetangga, cinta sebagai makhluk hidup. Novel ini sungguh berisi cita-cita besar dan pesan moral yang sungguh luar biasa. Bukan sekedar novel berlabel cinta dan pembangun jiwa, novel ini begitu cerdas dan ilmiah. Dilengkapi dengan sejarah dan riset yang sangat menarik sekalipun bagi orang awam. Berisi nilai kehidupan yang patut diteladani. Yang paling menggetarkan adalah tentang kesetiaan. Kesetiaan pada Tuhan, pada pasangan dan pada niat. Begitu istiqomah.
Novel ini bisa dijadikan referensi bagi mereka yang hendak menikah. Karena sungguh, membaca novel ini rasanya ingin segera "menyegerakan". Betapa cinta itu indah bagi mereka yang mengerti hakikat cinta yang sesungguhnya, berjalan bersama mengejar keridhoanNya, demi mendapat cintaNya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar