Dulu, saya pernah bertanya-tanya, apa sih psikologi itu?
Dan Alhamdulillah, sekarang sudah mulai kenalan lebih dalam dengan 'psikologi' karena saya memutuskan untuk mengambil prodi Psikologi Islam di IOU. Yang tadinya sebatas tertarik dengan ilmu psikologi, sekarang malah makin penasaran dengan 'psikologi islam'!
Psikologi islam menurut saya lebih luas cakupannya karena mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan religius kedalam ilmu psikologi yang selama ini banyak diadopsi dari teori dan konsep barat.
Bagaimana rasanya menggabungkan studi tentang psikologi kontemporer dengan kedalaman ajaran Islam?
Saya akan berbagi pengalaman pribadi yang mencerahkan. Setelah berjalan 3 semester menempuh pendidikan di program studi Psikologi Islam International Open University (IOU), saya menemukan banyak sekali pelajaran berharga yang benar-benar mengubah cara pandang saya, baik sebagai seorang Muslim maupun sebagai individu. Penasaran apa saja insight dan ilmu praktis yang saya dapatkan? Yuk, kita bedah satu per satu!
1. Menemukan Jembatan antara Sains dan Iman
Hal pertama yang paling berkesan adalah bagaimana IOU berhasil menjembatani dua disiplin ilmu yang sering dianggap terpisah: Psikologi Barat dan ajaran Islam.
Bukan Sekadar Penerjemahan: Ini bukan hanya menerjemahkan teori psikologi ke dalam bahasa Arab atau menyisipkan dalil. Kurikulumnya dirancang untuk mengintegrasikan keduanya. Kami belajar tentang Teori Kepribadian Freud atau Kognitif-Behavioral, namun kemudian dibedah melalui lensa konsep Islam seperti Fitrah, Nafs, Ruh, dan Qalb.
Fondasi Nafs (Jiwa): Mata kuliah seperti "Islamic Psychology and Psychotherapy" mengajarkan bahwa kesehatan mental sejati berakar pada Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa). Masalah psikologis dipandang tidak hanya sebagai chemical imbalance, tetapi juga sebagai potensi ketidakseimbangan spiritual. Ini benar-benar membuka mata.
2. Kedalaman Konsep yang Mengubah Perspektif
Ada beberapa mata kuliah dan konsep kunci yang sangat berdampak pada pemahaman saya:
A. Psikologi Perkembangan Sepanjang Hayat (dari Perspektif Islam)
Kami tidak hanya membahas perkembangan kognitif atau sosial, tetapi juga perkembangan spiritual (misalnya, tahapan keimanan) dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut.
Pelajaran Kunci: Mempelajari bagaimana tugas perkembangan spiritual di setiap fase kehidupan memiliki peran penting dalam mencegah krisis eksistensial atau keagamaan di masa dewasa.
B. Psikoterapi dan Konseling Islami Lanjutan
Materi ini memberikan bekal praktis. Kami belajar bagaimana menggunakan teknik terapi yang sudah teruji, seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy), namun di-Islam-kan.
Contoh: Mengganti "pikiran negatif" dengan "pikiran Islami" (misalnya, mengubah rasa putus asa menjadi bertawakkal) dan menggunakan dzikir sebagai alat relaksasi dan penjangkaran spiritual.
C. Dan masih banyak mata kuliah psikologi lainnya yang diintegrasikan dengan nilai-nilai islam
3. Pengalaman Belajar Online Internasional
Sebagai program online open university, IOU memberikan pengalaman yang unik dan menantang:
Fleksibilitas Waktu: Sistem pembelajaran mandiri (self-study) melalui modul dan rekaman video sangat membantu saya yang juga memiliki kesibukan lain. Saya bisa belajar kapan saja, selama saya disiplin dalam mengerjakan tugas dan kuis mingguan.
Tantangan Bahasa: Terdapat materi, buku referensi, dan tugas esai menggunakan Bahasa Inggris. Ini awalnya menantang, tetapi justru memaksa saya meningkatkan kemampuan akademik berbahasa Inggris.
Komunitas Global: IOU memiliki sesi live (bila berhalangan hadir, bisa menyimak rekamannya) dengan dosen berbahasa Indonesia dari berbagai disiplin ilmu. Berdiskusi dengan teman sekelas dengan beragam latar belakang menambah kekayaan perspektif budaya tentang masalah psikologis.
Penutup: Ilmu yang Membimbing Hati dan Akal
Kuliah di Prodi Psikologi Islam IOU bukan hanya memberikan gelar, tetapi juga sebuah cara pandang baru. Saya tidak hanya belajar memahami pikiran dan perilaku manusia secara ilmiah, tetapi juga belajar membimbing hati dan jiwa agar seimbang dan mendapatkan keberkahan.
Ilmu yang saya dapatkan kini tidak hanya saya gunakan untuk memahami orang lain, tetapi yang terpenting, untuk "mengobati" diri sendiri—memahami luka pengasuhan, mengelola emosi, dan memperkuat hubungan saya dengan Allah SWT.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda tertarik untuk menggali ilmu Psikologi Islam? Atau mungkin Anda sudah menjadi mahasiswa di IOU juga?
Yuk, bagikan pengalaman atau pertanyaan Anda di kolom komentar di bawah!
Komentar
Posting Komentar